Minggu, 31 Mei 2026

PART #2

Terakhir aku bercerita kalau aku merasa bersalah dengan semua orang, ya itu benar! Kenapa sih, kok bisa sejauh itu aku menaruh hati pada "orang baru" yang masuk ke dalam hidupku? Terlalu klasik kalau aku bilang rasa itu mengalir begitu saja, tapi memang benar begitu adanya 🙃 rasa itu memang tumbuh dengan sendirinya tanpa dipaksa dan dibuat-buat karena aku juga yang membuka hatiku 🥲

Aku akan memulai cerita ini dari memperkenalkan siapa "Pria" yang aku sebut di PART#1.

Pria ini adalah rekan kantor baru ku pada kala itu. Sejak pertama kali berkenalan pun kami biasa saja, aku juga tidak terlalu notice dengan namanya. Sebatas perkenalan basa-basi orang baru di hari pertama bekerja.

Kalau ku ingat-ingat memang lucu sebenarnya, seperti ada yang berbeda dari pria ini. Dari cara dia membuat orang tertawa sampai dengan caranya dia memperhatikan aku. Sangat unik dan menarik 🙃
Jujur, aku mengakui diriku ini adalah orang yang sangat peka. Ketika dia sering memperhatikan ku dengan cara yang berbeda, aku sangat merasakannya. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik ku, setiap yang aku lakukan dia selalu melirik. Dan menang benar, setelah sekian lama akhirnya dia mengakui kalau memang dikala itu dia sedang memperhatikan ku. Entah apa yang membuat dia memperhatikanku sampai segitunya dikala itu (?)

Dia selalu punya cara yang berbeda untuk menarik perhatian ku setiap harinya. Padahal sikapku selalu "galak" kepadanya, aku tidak pernah memperlakukan dia dengan manis, karena memang aku merasa itu adalah cara kami "bercanda" sebagai teman kantor. Ya, awalnya memang aku hanya berusaha mengimbangi guyonan rekan-rekan kantorku (mostly bapak-bapak) jadi kami bercanda senatural itu, tapi ternyata itu awal mula petaka 😃 caraku memperlakukan dia terasa semakin menimbulkan adanya perasaan aneh ini. Rasanya seperti kami saling merobohkan tembok besar yang ada didepan kita.

Sampailah disuatu titik, akhirnya kami saling mengakui bahwa ada perasaan yang seharusnya tidak boleh diungkapkan, tapi kami malah mengakui dan saling mengungkapkan perasaan tersebut 🙂 padahal sudah jelas itu tidak boleh diungkapkan! Salahnya, aku terlalu membuka apa yg aku rasakan ini kepada dia.

Kalian pasti akan kaget, sebenarnya dia juga sudah memiliki keluarga dan dia juga mengetahui aku sudah memiliki keluarga tapi kami memilih untuk berterus-terang tentang apa yang kita rasakan. Memang awalnya dia lebih dulu mengakui perasaan tersebut, aku sempat denial tentang perasaan yg aku rasakan ini. Terlalu berbahaya memang dengan perjalananku ini, dan ku akui aku sangat takut untuk menjalankan ini.

Selain itu kami juga memiliki pertanyaan satu sama lain "sebenarnya ada apa dengan kita?"
Dia tau ada yg tidak beres dengan hidupku, dan akupun tau ada yg tidak beres dengan hidupnya.
Karena tidak mungkin dia berani bermain api lebih dulu kalau tidak ada pemicu didalam hidupnya juga.
Mungkin untuk permasalahan dia, tidak akan aku ceritakan disini, cukup aku yg tau kenapa dia seperti ini.

Jelas semakin hari bersama rasanya semakin dalam. Kami seperti memiliki satu sama lain, melengkapi kekosongan yg kami isi bersama, berusaha mengerti satu sama lain tanpa menuntut lebih dari perasaan ini. Kami terus mengatakan bahwa pertemuan kita bukan untuk menghancurkan, terlalu naif memang, berkedok untuk menjaga apa yg sudah dibangun sebelum adanya kami.

Ketakutan demi ketakutan, kekhawatiran demi kekhawatiran, kebahagiaan demi kebahagiaan, kesedihan demi kesedihan, kami mulai melewati hari-hari dengan perasaan itu.
Aku mengerti ini adalah sebuah kesalahan besar, apalagi jika terus berlanjut. Secara logika, mudah saja untuk kami saling pergi dan meninggalkan, nyatanya sudah beberapa kali kamu mencoba untuk mundur, namun masih terasa lebih berat untuk dijalani.

Padahal aku pernah menjadi orang yang tersakiti karena kisah orang ketiga, tapi kenapa sekarang aku menjadikan dirikiu seperti orang ketiga? Ironisnya, dia tidak pernah menganggap aku adalah orang ketiga dalam rumah tangganya, entah apa itu cuma kenaifan dia juga sebagai laki-laki yang membutuhkan validasi dari seseorang wanita.

Dia banyak memberikan hal positif untuk hidupku juga, memberi semangat, sedikit mengajariku dan mengingatkanku  perihal agama. Karena dia, akhirnya aku tau apa yang tidak aku dapatkan tapi dia coba berikan.

Sampah ditimbun terlalu lama pasti cepat atau lambat akan tercium bau busuknya, penuh kesadaran aku menjalani hari-hariku ini yang tidak tau sampai dimana akhirnya.
Tapi yang jelas, aku berusaha meyakini bahwa ini hanya sebuah pelampiasan, bukan untuk pilihan yang aku pilih. Jujur, aku seperti menjalani banyak peran dalam hidupku saat ini 🥹 dengan penuh kesadaran menunggu bom waktu kapan semua akan terungkap?

Rasanya terlalu banyak cerita yang terlewat untuk aku ceritakan disini. Semoga segalanya dapat kami selesaikan dengan bijak ☺️
Aaminn. Done PART 002😂🥹